Kamis, 20 September 2012

Belajar dari Muchlis



Beberapa tahun yang lalu, di pertengahan 2002, pertemuan dengan anak ini membayang. Masih bercelana abu-abu, menyambut kedatanganku ke sekolahnya. Kita ada dating hari itu, lebih tepatnya aku meminta bertemu mereka. Kuingin melihat seperti apakah yang namanya tim nasyid itu. Kita berjanji untuk memulai proyek latihan bersama. 
Terlihat sekali anak ini ingin membuat suasana jadi cair di pertemuan pertama, padahal kutahu itu caranya untuk menutupi ketidak enakan karena teman-teman se-tim-nya belum pada ngumpul. Lama sekali kita berbincang di depan kelas 2 E, yang dari situ kutahu anak ini bernama Muchlis. Muchlisin nama panjangnya, ya... hanya Muchlisin. Orang yang ikhlas.
Bertahun-tahun berproses bersamanya dalam nasyid, ada banyak sekali pelajaran yang bisa kuambil dari seorang Muchlis.

Kegilaannya pada buku sungguh tidak main-main. Di kamar kontrakannya yang sempit, buku-buku bertebaran di mana-mana. Itulah juga yang membuatku betah di kamarnya dibanding kamar anak-anak lain. Bisa nebeng baca macem-macem buku. Ternyata hobby membacanya membuat Muchlis mempunyai pola pikir yang berbeda, di atas teman-teman seusianya. Pola pikirnya yang berisi banyak bacaan, mengejawantah dalam kata-katanya yang cenderung dewasa dan bijaksana. Dari perkataannya mengalir menjadi tindakan yang tidak biasa. Di saat anak yang lain memilih untuk tidak berbuat apa-apa, Muchlis selalu mempunyai sesuatu yang dilakukan. Kursus Bahasa Inggris, bersepada rutin adalah 2 di antaranya. Seperti kata Stephen Covey, ada kuadran kegiatan yang tidak mendesak tapi penting sering terabaikan. Tapi tidak untuk Muchlis. Kegiatan bergizi jangka panjang selalu dia lakukan.

Terhitung sampai hari ini setelah berselang 10 tahun, baru terlihat perbedaannya. Benar bahwa ayat pertama turun adalah kita diperintahkan 'membaca' memang terbukti. Saat ini Muchlis sedang di Swedia. Di Karlstad tepatnya. Saya yakin sepulang dari Swedia saat perjalanan hidupnya dia tulis, tidak akan jauh berbeda dengan Alif - Negri Lima Menara. Hanya setting yang berbeda. Alif bersetting melayu, Muchlis bersetting jawa. Dari kota kecil Tuban, Jawa Timur, dia terbang jauh ke Swedia, mendapat hadiah dari ayatNYA : Bacalah.....

So, teman-teman... dalam kurun waktu 10 tahun ini saya mengenal sosok Muchlis, inilah yang saya pelajari. Mulai detik ini, saat ini..... ambil buku apa saja yang positif.... dan mari mulai membaca!